Lompat ke konten

Undangan Digital Adat Papua

Papua & Papua Barat

Motif ukir dan burung cenderawasih: coklat, kuning, dan hitam yang eksotis.

8 templateUkirCenderawasihMotif PapuaMotif IkatMotif Tenun

Cenderawasih

Wa wa wa— Sapaan suku Dani (Lembah Baliem) diucapkan sambil tersenyum dan mengangguk; variasi lain: 'Nabe' (Mee), 'Emoni' (Kamoro), 'Aroha' (Sentani).

Motif ukir dan burung cenderawasih: coklat, kuning, dan hitam yang eksotis.

Busana adat

Koteka — penutup pria dari kulit labu air · Yokal — rok perempuan yang sudah menikah dari kulit pohon (tapa) yang dipukul/diproses; perempuan lajang memakai sali · Baju kain rumput dari pucuk daun sagu · Rumbai & bulu cenderawasih pada bahu dan pergelangan kaki · Kalung & selempang kulit disamak

Iringan

Tifa — perkusi kayu berkulit; dahulu simbol perdamaian · Pikon — harpa mulut bambu suku Dani · Triton — terompet kulit kerang (Biak, Yapen, Waropen)

Tekstil khas

Noken (tas rajut serat kayu — bukan tenun) · Kain kulit kayu · Tenun Papua

Elemen visual

Cenderawasih · Noken · Tifa · Bakar batu

Doa & restu adat Papua

Dipakai sebagai kutipan awal undangan bertema budaya ini — sesuai keyakinan Kristen.

  • Bakar batu — syukur yang dimasak bersama, dibagi bersama.

    Adat · Tradisi bakar batu (barapen) Papua

    Ungkapan syukur dan kebersamaan; batu panas, makanan, dan doa dibagi untuk seluruh keluarga.

  • TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau damai sejahtera.

    Doa · Bilangan 6:24-26

Rangkaian adat Papua

7 tahap dari riset bersumber (6 sumber) — urutan ini yang dipakai di undangan.

Pra-acara

  1. 1.Sanepen / Fakfuken (lamaran, Suku Biak)

    Dua cara melamar: Sanepen adalah perjodohan anak-anak oleh kedua orang tua; Fakfuken adalah pinangan setelah calon berusia di atas 15 tahun. Pihak pria membawa kaken (kalung/gelang manik-manik) sebagai tanda perkenalan; bila diterima, pihak perempuan membalas kaken. Jumlah kaken bergantung kemampuan keluarga pria.

    Dipimpin: Orang tua dan tetua adat

  2. 2.Penentuan mas kawin dan hari baik

    Kedua pihak berunding menentukan mas kawin dan hari pernikahan. Dahulu mas kawin berupa kamfar (gelang kulit kerang) hingga perahu bagi kalangan terpandang; kini roibena, gelang perak, atau porselen dari Tiongkok. Orang tua mendatangi tetua adat untuk menanyakan hari baik; persiapan mulai sekitar seminggu sebelum hari H.

    Dipimpin: Tetua adat

  3. 3.Samrem (Suku Biak)

    Sehari sebelum pernikahan: makan bersama antara kedua calon pengantin dengan seluruh saudara laki-laki dari pihak ibu kedua calon. Calon pengantin perempuan kemudian dirias sesuai adat dan diantar ke rumah calon pengantin pria, tempat acara puncak berlangsung.

    Dipimpin: Keluarga pihak ibu

Akad / pemberkatan

  1. 4.Penyerahan roibena dan asyawer (Suku Biak)

    Pihak perempuan menyerahkan roibena sebagai simbol telah menyerahkan calon pengantin sepenuhnya kepada pihak pria, disertai asyawer berupa seperangkat senjata (panah, parang, tombak). Pihak pria membalas dengan hal serupa sebagai simbol penerimaan dan janji menjaga seperti anak sendiri. Setelah penyerahan ini upacara pernikahan dapat dilanjutkan.

    Dipimpin: Kepala adat/tetua

  2. 5.Upacara rokok dan ubi (Suku Biak)

    Inti adat: kepala adat menyerahkan sebatang rokok sebesar cerutu yang wajib dihisap kedua mempelai, dimulai pengantin pria. Kepala adat lalu memberi masing-masing satu ubi bakar dan membacakan doa/mantera (wafer) memohon restu Yang Maha Kuasa. Kedua mempelai saling menyuapi ubi sebagai tanda sah menjadi suami isteri.

    Dipimpin: Kepala adat Suku Biak

  3. 6.Varian Suku Moi: mas kawin kain timur dan piring

    Upacara dihadiri seluruh keluarga besar dan kerabat sedarah (satu marga), berlangsung 1-3 hari. Mas kawin berupa kain timur, piring, dan perlengkapan adat lain; noken dan tikar menjadi pelengkap bagi perempuan. Pihak pria wajib melunasi mas kawin sesuai permintaan; bila belum terpenuhi, acara berlanjut.

    Dipimpin: Tua-tua adat

Resepsi

  1. 7.Makan bersama

    Rangkaian ditutup dengan makan bersama keluarga besar dan tamu undangan. Pada beberapa komunitas pegunungan dikenal masak bersama dengan batu panas (bakar batu), tetapi sumber yang ditemukan tidak merincinya sebagai bagian wajib pernikahan.

    Dipimpin: Keluarga penyelenggara

Catatan adat

  • Perempuan yang belum bisa membuat noken dianggap belum dewasa dan belum boleh menikah; kemampuan membuat noken adalah syarat kedewasaan perempuan Papua.
  • Pada Suku Moi, pihak laki-laki wajib membayar mas kawin sesuai permintaan; bila belum terpenuhi, upacara berlangsung lebih lama (1-3 hari) sampai tuntas.
  • Pada Suku Dani, perkawinan dimulai dengan pertemuan keluarga dan pembayaran maskawin (babi dan uang) sebelum nikah; sumber menyebut adanya larangan-larangan perkawinan adat yang berbeda antar-daerah, tetapi tidak merinci.

Simbol & makna

Kaken

Gelang/kalung manik-manik yang dipertukarkan saat fakfuken — simbol perkenalan dan penerimaan lamaran.

Cenderawasih

Burung surga; bulunya menghiasi mahkota pengantin — kehormatan, kedudukan, dan harmoni manusia dengan alam.

Kamfar

Mas kawin tradisional berupa gelang kulit kerang (dahulu perahu bagi kalangan terpandang) — keseriusan pihak pria.

Ubi yang Disuap

Saling menyuap ubi bakar setelah doa 'wafer' — simbol kedua pengantin resmi sah sebagai suami-istri.

Ukiran Asmat

Seni ukir kayu yang dipercaya menghubungkan dunia manusia dengan arwah leluhur; motifnya mengambil alam dan aktivitas sehari-hari.

Siap pakai template Papua?

Daftar gratis, pilih template, isi form, upload foto — undangan tayang dalam hitungan menit.

Mulai gratis